Penyesalan terbesar dalam hidupku.

Dua puluh tahun dari sekarang, kamu akan lebih menyesali hal-hal yang tidak kamu lakukan, daripada hal-hal yang kamu lakukan. –Mark Twain

Saya ingin menulis postingan ini sejujur mungkin buat pembaca blog ini. Saya tidak ingin cuma menampilkan yang senang-senang dan bikin anda iri, padahal kenyataan kan tidak selalu seindah harapan.

Ada beberapa keputusan yang saya ambil di masa lampau yang kini saya sesali. Kalau misal ada mesin waktu nih, saya bakal naikin buat ketemu diri saya yang lebih muda, terus teriak kenceng-kenceng di kupingnya,  “KAMU UDAH BENER KOK!! JANGAN MUNDUR!!”

Most of such regrettable decisions revolve around insisting status quo to prevail, rather than trusting my gut and and keep moving on, regardless how crazy it sounds back then.

Kebanyakan keputusan-keputusan tersebut berputar pada tetap membiarkan status quo mengambil alih. Daripada percaya pada insting dan terus maju pantang mundur, walaupun kedengarannya agak gila bagi orang lain.

Jadi, inilah penyesalan-penyesalan terbesar dalam hidup saya, yang pingin banget saya cari solusinya sekarang.

1. Meninggalkan dunia blogging

Bukannya sombong atau gimana, tapi saya memang tahu kalau saya ada bakat menulis. Terbukti dari track record sejak kecil.

Waktu saya kelas 3 SD, kan ada banyak jenis eskul yang bisa dipilih. Kebanyakan teman-teman saya mengambil pramuka, menggambar, atau menari. Bersama 3-4 teman lain, saya pilih eskul yang nggak terlalu popular: mengarang.

Iya. Saya ingat banget. Sore-sore sehabis pelajaran usai, kami pergi ke lab computer dan mengetik cerpen dan fiksi di PC yang masih pakai OS Windows 98.

Nggak heran waktu dunia blogging menarik perhatian saya ketika SMP (kira-kira tahun 2007), saya langsung terjun. Dulu, blog yang pertama banget masih pakai gratisan dari situs blog.com. Kayaknya sekarang situs itu sudah nggak ada.

Lama-lama blog itu agak ditinggalkan. Kemudian waktu kelas 1 SMA saya menulis lagi di wordpress.com, dengan bahasa yang wow, fantastic baby (alay banget maksudnya).

Pada waktu yang sama, saya juga punya blog khusus untuk topik kebumian yang sekarang sudah diadopsi oleh situs resmi Olimpiade Kebumian Indonesia. Nah yang ini memang agak-agak menyesal dikit, karena saya cinta setengah mati dengan situs kebumian itu, bahkan bisa dianggap anak sendiri. Tetapi tidak apa-apa, karena saya anggap ini amal untuk dunia geosains di Indonesia.

Akhirnya, di tahun terakhir kuliah dan tahun pertama masuk ke dunia kerja, saya buka lagi situs di blogspot. Situs itu sekarang dialihkan ke blog sarahsausan.com ini.

Kalau dihitung, sudah 4 blog yang sudah saya buat selama 8 tahun terakhir, sejak SMA hingga sekarang. Sedihnya, semua saya tinggalkan.

Baru sekarang saya mengerti bahwa mungkin inilah panggilan hidup saya. Cie, dramatis, tapi memang benar. Saya yakin bahwa bercerita atau storytelling adalah salah satu bakat natural yang harus saya kembangkan – terutama dalam media tulisan.

Nyeseknya adalah ketika sekarang melihat blogger-blogger Indonesia menjadi sukses ala superstar, seperti Diana Rikasari dan Dian Pelangi. Sumpah, bikin gigit jari dan pingin menampar diri sendiri rasanya.

Karena, you know, saya mungkin bisa jadi seperti mereka. Kalau misal dulu lebih konsisten mengembangkan blog.

Jadi kenapa dulu tiba-tiba berhenti ngeblog? What was I thinking?

Jawabannya kemungkinan besar adalah penyesalan terbesar nomor 2…

2. Terlalu fokus ke sekolah dan ujian

“Sekolah” yang saya maksud adalah terutama SMP dan SMA. Sekarang nih, kalau anda kasih saya materi ulangan atau menguji pengetahuan saya tentang hal-hal yang saya pelajari dulu, ini jawaban saya.

Banyak yang lupa, dan nggak terlalu peduli juga.

Jujur saja, sedikit banget yang akhirnya benar-benar saya pakai waktu sekarang sudah menjadi profesional!

Sebenarnya dari dulu saya kurang suka sistem sekolah, terutama ujian-ujiannya. Waktu SMA, saya dilanda stress yang lumayan dahsyat sampai-sampai saya mikir mungkin homeschooling alternative yang lebih baik. Walaupun kenyataannya, waktu itu, saya nggak bisa pindah jadi homeschooled.

Orang bilang tipe kepribadian saya itu tipe A, yang cenderung rajin dan nurut. Ditambah nasehat-nasehat dari kiri dan kanan yang mengindikasikan bahwa ujian itu sangat, sangat, penting, akhirnya saya lebih memprioritaskan ujian. Harga yang dibayar? Meninggalkan blog agar lebih konsentrasi belajar.

Baru sekarang, saya sadar betapa bodohnya keputusan ini.

Coba waktu itu saya kekeuh untuk mengejar passion menulis, mungkin saya bisa lebih bahagia. Bahkan, mungkin juga bisa menyambung hidup dari hobi.

Yang membawa kita ke point terakhir – dan juga penyesalan yang paling besar dalam hidupku, sementara ini…




3. Tidak mempercayai insting.

Tim dari Wait but Why menjelaskan konsep ini dengan sangat baik.

Terlalu mempedulikan pendapat orang, atau bisa dibilang membiarkan hidupmu diinjak-injak oleh “Mammoth” yang selalu ketakutan, membuat Suara Asli (Authentic Voice) jadi terabaikan. Walaupun saya lumayan pede mengatakan bahwa saya orangnya cukup unik dan original, harus diakui bahwa mungkin si Mammoth ini lumayan berpengaruh di otak saya.

Contohnya: meninggalkan blog tadi. Atau tidak menyelesaikan novel dan projects yang dimulai. Tidak mengambil jeda antara SMA dan kuliah.

Alasannya: mengikuti jalur yang “normal”.

Menjadi original dan unik itu beresiko. Anda jadi kelihatan beda sendiri, mungkin menyerempet ke abnormal. Tetapi, bukankah memang itu definisi dari original?

Harusnya, dulu saya lebih mendengarkan si Suara Asli dan tutup telinga rapat-rapat untuk memblokir suara-suara yang bikin ragu atau menyuruh mundur. Harusnya, dulu saya harus lebih percaya diri untuk menggapai impian dan mengeksploitasi bakat natural saya.

Sisi positifnya…

Saya tahu saya nggak sendirian. Mungkin anda juga merasakannya. Malah sepertinya, kecenderungan anak-anak muda sekarang berada di dilemma yang sama. Hal ini bermuara pada paradoks passion: kita disemangati untuk mengejar mimpi, tapi disaat yang sama dituntut untuk mengikuti jalur yang sudah mapan atau mengambil pekerjaan yang aman. Lebih buruknya, waktu itu saya cenderung mengikuti arus.

Ada baiknya juga bahwa saya “sadar” ketika umur masih 20an. Mudah-mudahan saya masih punya waktu dan energi untuk mengubah haluan kapal. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, saya pingin mencari solusi untuk hal ini. Dan itu dimulai dari menjadi tahu apa yang diinginkan dan kemana ingin berjalan.

Kalau anda berada di posisi yang sama, bisa jadi postingan ini adalah “tamparan” yang anda butuhkan. Tapi anda tidak sendirian, kok. Berapapun umurnya – 20, 30, 40 – tidak ada kata terlambat untuk memulai. Karena, pada akhirnya yang penting adalah…

Kita sudah berusaha sekeras mungkin.

Bagaimana menurutmu? Ngobrol yuk. Anda bisa tulis cerita anda di kolom Komentar di bawah ini.

2 thoughts

  1. Very very much related Sau. Well, gw termasuk generasi anak kampung yang ortunya bahkan nyekolahkan anak ke Jawa aja udah dianggap prestasi. Jadi rasa takut mengalahkan orisinalitas. Impian gw selalu di musik dan cita-cita itu harus dikubur dulu demi perut dan kepulan dapur orangtua.

    Harapan gw cuma agar keturunan gw ntr bukan jadi generasi sandwich yang menjadi penopang dirinya dan ortunya.

    2030 target is becoming financially free and independent. Meaning, gw bisa lebih picky ngambil kerjaan yang gw suka, karena uang bukan lagi jadi BIG factor. Moga2..

    Nice Share!

    1. Aaamiin! Sama mas, idealnya padding finansial sudah ada jadi bisa benar-benar mengejar apa yang kita mau. Thank you for reading 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *