5 Produk Kecantikan yang Sudah Tak Terganti

Inilah dia soulmate makeup ku.

Kalau dihitung-hitung, saya sudah pakai produk skincare dan make-up selama 10 tahun lebih. Dari sejak remaja baru lulus SD yang coba-coba pakai body lotion dan baru tahu yang namanya sunblock, sampai sekarang yang depan cermin ada botol berderet.

Dulu sih, kebanyakan masih tahap percobaan. Apalagi waktu SMA dan kuliah. Belum ada produk yang bagi saya benar-benar “holy grail”. Yang kalau mau abis rasanya tidur tak tenang (yah, lebay deh).

Tapi sekarang ada loh. Empat so far. Produk-produk yang kalau dalam dunia per-dating-an, sudah saya “pacarin” dengan serius. Bukan PDKT atau masih coba jalan lagi. Ini dia “pacar-pacar” saya untuk tiap kategori.

Sunscreen muka: Biore Aqua Rich SPF 50

Biore UV Watery Gel SPF 50

Sunscreen ini favorit sejuta umat for a reason. Terutama untuk iklim di Indonesia yang cenderung panas terik tapi juga lembab. Sunblock-sunblock normal biasanya terlalu tebal dan bikin muka kayak pakai topeng putih. Saya ingat banget dulu tahun 2010-an waktu awal-awal kuliah, saya harus pake sunblock yang begitu waktu kerja lapangan (saya kuliah jurusan geologi). Risih sih, kayak ada krim nempel di muka. Tapi gimana lagi, kalau nggak pakai nanti muka gosong.

Terus satu trip ke Jepang menemukan saya dengan sunscreen idaman ini. SPFnya 50, PA nya plus tiga. Artinya sunscreen ini bisa meminimalisir efek UVA (yang bikin kanker kulit, nauzubillah) dan UVB (yang bikin kulit menghitam).

The magic happens once you wear it. Sesuai namanya, ini sunscreen memang watery banget. Nggak kayak sunscreen pada umumnya yang cenderung lebih ke arah krim dengan bau yang agak aneh.

Penampakan watery gel-nya

Terutama untuk kulitku yang kombinasi, sunscreen ini cepat meresap. Begitu dia meresap, tidak ada residu yang ditinggalkan. Benar-benar rasanya kayak gak pakai apa-apa. Sudah begitu, harganya murah dibandingkan dengan harga sunblock pada umumnya.

Cepat meresap, tidak meninggalkan bekas maupun bau

Terakhir saya beli di AEON mall di BSD Tangerang, di supermarketnya, dengan harga kira-kira 100 ribuan. Pakai setiap hari sebelum kantor, habis dalam waktu 6 bulanan. Hemat lah, ya. Sunscreen ini bisa dibeli online juga di Sociolla, Watsons, dan juga di toko-toko Shopee. Saya dengar kalau di Jakarta ada di toko Watson, Century, dan Guardian, tapi saya belum cek sendiri.

Kalau sempat transit di Narita terminal 1, sunscreen Biore ini juga bisa dibeli di toko drugstore di dalam bandara. Kalau nggak salah dekat 7-eleven dalam bandara.

Jujur, sebelum kepincut dengan yang ini, saya udah jatuh hati duluan dengan temannya. Yaitu produk sunscreen Anessa dari Shiseido. Yang ini nih. Edan sih, dipakenya enakkkk banget. Sama seperti Biore, doi juga watery, cepat meresap, dan gak berasa apa-apa. Sama-sama SPF 50 PA+++ juga. Bedanya adalah ketika sudah meresap, yang dari Shiseido berasa ada lapisan bedaknya gitu. Rasanya kulit muka jadi tambah mulus dan nge-blur. Apalagi buat tempat-tempat yang agak berminyak, ini membantu banget untuk menekan “kekinclongan” (you know what I mean). Kalau yang biore sih biasa aja, balik ke kulit muka awal – mungkin agak lembab sedikit.

Terus kenapa kita “putus”?

(Saya sudah terlanjur lebay. Sekalian di-lebayin aja deh.)

Ceritanya sedih. Suatu ketika, saya naik taksi online untuk berangkat ke tempat klien di Jakarta Pusat. Seperti biasa, berhubung pagi-pagi butuh waktu 1,5 jam-an untuk sampai kesana, saya menghemat waktu dengan dandan di mobil.

Botol Anessa-nya jatuh ke slepetan jok tengah. Hiks.

Dan saya baru sadar besoknya ketika dandan lagi. Telat sudah. Berhubung buru-buru, saya repurchase si Biore, yang dulu sudah pernah dicobain tapi ditinggal karena ketemu si Anessa. Terus juga Anessa mahal bok… 4 kali lipat harga Biore. I’d figure bahwa untuk dapat efek pakai bedak, ya ditimpa bedak aja sekalian. Nggak perlu beli yang Anessa.

Begitulah ceritanya. Sampai sekarang saya pakai si Biore tiap hari, dan nggak kepikiran untuk coba yang lain. Udah cocok, murah, terpercaya lagi. Baik hati, tidak sombong, rajin menabung. Kayaknya bentar lagi udah bisa ijab kabul.

Lipstik: Borjouis

Borjouis Lipstick

Untuk kategori ini, bukan berarti semua lipstik saya bermerek Borjouis. Saya lebih suka eksperimen untuk lipstik, dari Wardah, NYX, sampai YSL. Tetapi lipstik Borjouis selalu jadi lipstik yang dibawa di pouch makeup di tas kerja. Bisa dibilang, untuk urusan pemerah bibir sehari-hari, saya percayakan pada Borjouis.

Saya ingat tahun 2014-2015, merek ini booming banget di Indonesia. Beberapa teman saya malah memborong berbagai macam warna yang sering sold out. Saya ikutan coba deh satu, yang warnanya semacam muted coral (mungkin yang ini), mumpung persediaan lipstik juga menipis. Harganya sekirar 170 ribuan, yang menurut saya waktu itu lumayan mahal (i.e. masih polos, belum terlalu kena racun). Lah soalnya lipstik-lipstik merek lokal harganya kan cuma 30-70 ribuan, dan saya yakin itu warna pasti ada dupe-nya. Namanya orang penasaran, tetep aja dibeli.

Wah, ternyata, memang beda. Lipstik Borjouis ini suprisingly lembut banget. Kadang-kadang kalau pake lipstik kan rasanya keset, berminyak atau agak grainy. Borjous nggak begitu – smooth tanpa perlu tenaga lebih, tapi juga nggak belepotan. Just in the right spot.

Yang edan memang staying powernya – saya sudah pakai makan pisang goreng, terus makan siang, dan itu lipstik masih ada warnanya di bibir. Beda dengan lipstik-lipstik saya sebelumnya – mendoan dikit aja sudah hilang entah kemana.

Saya lupa dulu beli dimana. Kalau nggak salah semacam di apotek mall Jakarta, kalau nggak Guardian, Century. Akan tetapi setelah satu tube full habis tak bersisa, saya mencoba menghabiskan lipstik saya yang lain, dan belum repurchase.

Fast forward tahun lalu, ketika saya iseng main ke konter kosmetik di bandara Juanda sebelum berangkat ke Lombok untuk bulan madu. Ternyata disitu jual Burjouis. Seperti cinta lama bersemi kembali, saya pun tertarik untuk mencoba formula barunya, yang sekarang bernama “Rouge Edition 12 hr”. Kagetnya, tidak hanya bertemu kembali dengan lipstik favorit, saya pun dapat warna everyday red yang dari dulu saya cari-cari. Warna netral cenderung bikin muka saya pucat, tapi saya nggak mau juga pakai lipstik merah honjreng kemana-mana. Sekarang suka banget deh, wajah jadi lebih segar dan hidup walaupun belum mandi (ups).

Ini dia yang sekarang setia menemani kemanapun saya pergi: Borjouis Rouge Edition 12 hr no 45: Red-outable. Biasanya ini adalah step terakhir setelah lip balm dan lip liner nude.

swatch - no 45 redoutable
swatch – no 45 redoutable

Sayangnya ternyata ini lipstik agak susah dibeli online. Tadi saya cari-cari ada di Sephora Indonesia, tapi semua warna habis semua. Ada sih yang liquid dan juga yang rouge edition lama (tidak 12 hr), cuman beberapa warna juga sudah sold out.

Hati-hati loh, ternyata banyak yang pelsong juga. Jangan beli di toko yang tidak terpercaya.

Pemutih Gigi: Crest Whitening Strips

Crest Whitestrips

Dari dulu saya menimbang-nimbang apakah melakukan prosedur bleaching gigi atau tidak. Terutama karena biayanya yang cukup mahal – sekali bleaching bisa sampai 4-5 juta di klinik yang terpercaya. Sedangkan whitening kit yang dijual online, lengkap dengan tray gigi, pasta pemutih dan sinar laser diragukan keaslian dan keamanannya.

Nah ternyata, waktu saya di Amerika, saya baru tahu bahwa sudah terkenal sekali produk pemutih gigi yang namanya whitening strips. Yang buat pun perusahaan produk perawatan gigi terkemuka, Crest, jadi ini bukan produk abal-abal. Awalnya saya skeptis – masa sih cuma tempelin strip selama setengah jam bisa bikin gigi jadi putih beberapa shade. Tapi yang namanya orang penasaran, akhirnya saya coba beli 1 kotak waktu ada diskon di swalayan bernama Target.

Dan ternyata… memang lebih putih!! Kelihatan bedanya, walaupun baru memakai sekali. Akhirnya tiap akhir pekan saya sempatkan untuk pakai strip ini. Harganya memang nggak murah banget, tapi jauh lebih murah dibandingkan bleaching di klinik. Bahan aktif yang digunakan (peroksida) juga sama dengan yang digunakan di klinik dokter gigi, namun dengan konsentrasi yang sudah disesuaikan untuk pemakaian pribadi.

Kita pun bisa mengontrol “tingkat keputihan” gigi yang diinginkan. Beberapa minggu sebelum menikah, hampir setiap hari saya pakai Crest Whitestrips ini. Biar kinclong waktu difoto dan waktu honeymoon. Kalau misal ada acara penting, nikahan atau memberi presentasi misalnya, biasanya saya pakai yang tipe 1-hour express. Ini contoh pemakaian yang tipe 1 hour express oleh suami saya. Kelihatan kan bedanya? Kalau di Indonesia, strips ini bisa dibeli online, misalnya di IG @gigiputihku.

Before white strips 1 hour express
After white strips 1 hour express

Durasi stripsnya nempel dua kali lebih lama dari reguler (1 jam vs 30 menit saja), tapi hasil putihnya jauh lebih kinclong. Tetapi karena memang kadar peroksidanya lebih tinggi, saya pakai yang 1-hour express kalau memang acaranya penting saja.

Pensil Alis: Catrice Cosmetics Eyebrow Stylist

Catrice Cosmetics Eyebrow Stylist

Mencari pensil alis yang tampak natural menurut saya susah pakai banget. Pertama, kekerasannya harus pas. Kalau terlalu lembek, hasilnya jadi terlalu tebal dan sinchan. Kalau terlalu keras, warnanya nggak keluar. Begitu juga tone dari warna pensil juga harus pas – tidak terlalu merah, tidak terlalu gray, dan tidak pula terlalu hitam. Intinya harus cari yang kalau digambar, mirip dengan alis yang asli.

Makanya, begitu ketemu pensil alis dari Catrice Cosmetics ini, rasanya seperti dihadiahi jackpot. Karena pensil ini memenuhi semua kriteria saya di atas, ditambah lagi harganya juga terjangkau. Sebenarnya, ada pensil alis lain yang juga memenuhi kriteria, yaitu pensil alis retractable merek Shiseido yang saya beli buru-buru waktu transit di Narita karena lupa bawa pensil alis. Bisa ditebak, harganya bikin nangis untuk sebatang pensil alis yang cenderung cepat habis. Oh ya, saya pakai yang no 4 “Don’t Let Me Brow’n”.

no 4 Don’t let me brown
no 4 Don’t let me brown

Sebelum mengukuhkan Catrice Eyebrow Stylist ini sebagai soulmate, saya terlebih dahulu mencoba varian lain yang ditawarkan Catrice. Salah satunya yang versi retractable. Lebih praktis, tidak perlu diserut. Saya suka sih, tapi ternyata yang versi retractable habis dalam waktu 1 bulan saja! Lebih mahal lagi dari versi pensil biasa. Sejak saat itu saya udah gak coba-coba lagi, sudah klop dengan Catrice Eyebrow Stylist ini. Terakhir saya langsung pesan online 5 biji sekaligus, hehehe…

Saya dengar di Indonesia merek Catrice sudah masuk ke mall, antara di Matahari atau Centro. Jadi sekarang kamu pun bisa mencoba dulu di counter sebelum membeli.

~~~

Itulah tadi beauty products yang sudah jadi soulmate saya. Bagaimana denganmu? Apakah ada produk-produk yang kamu nggak bisa lepas dan selalu dibawa kemana-mana? Komen di bawah ini, ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *